PLAAAK...!!! TAMPARAN Lelaki Ini Mendarat KERAS Di Pipi Prabowo Subianto, Mantan Danjen Kopassus.

Patriot NKRI - Tangannya menampar keras pipi mantan Danjen Kopassus tersebut. Namun, tamparan itu tidak membuat Prabowo marah. 
Azwar Syam menjadi sosok yang cukup dibicarakan di Palu, Sulawesi Tengah (Foto cover: Prabowo Subianto, saat berkunjung ke Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (25/02/2017).
Baca Juga: Mantap Jiwa...! Sekali Tendang, Perampok BERPISTOL Penembak Polisi Itu Langsung TEWAS di Kaki Sang PRAJURIT...!
Bagaimana tidak, Azwar seorang pensiunan TNI Angkatan Laut dengan pangkat terakhir kolonel, diketahui sebagai orang yang berani menampar Prabowo Subianto saat berkunjung ke Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (25/2/2017).
    Tangan Azwar Syam menampar keras pipi mantan Danjen Kopassus tersebut. Namun, tamparan itu tidak membuat Prabowo marah. "Saya rindu dengan tamparannya," kata Prabowo Subianto sambil tersenyum.
     Ya, Prabowo tengah bernostalgia bertemu Azwar Syam saat melakukan kunjungan ke Palu. Karena itu, saat bertemu Azwar Syam, Prabowo meminta lelaki tua itu menampar pipinya. Azwar Syam merupakan pelatih Prabowo saat sedang menempuh pendidikan militer di Akademi Angkatan Bersenjata RI atau Akabri.
      Azwar Syam dinilai Prabowo sebagai pelatih yang paling keras terhadap para taruna Akabri saat itu. Namun, kerasnya Azwar Syam punya alasan, yaitu bagaimana menanamkan kedisiplinan terhadap para anak didiknya.
Baca Juga: [Video] Jadi JAWARA Tak Terkalahkan, Prajurit Kopassus Ini Malah Bingung...!
Azwar Syam mengenang kisah ketika ia menampar Prabowo kala itu. Suatu ketika saat semua taruna Akabri sedang apel, salah seorang di antara mereka terlambat. Akhirnya, Prabowo Subianto selaku komandan regu harus mengambil risiko dengan dihukum.
      "Saya berikan hukuman berat karena dianggap dia tidak mampu mengurus anak buahnya," tutur Azwar Syam. Hukuman demi hukuman selalu diberikan oleh Azwar Syam kepada anak begawan ekonomi, Soemitro Djoyohadikusumo, yang sudah terkenal saat itu, termasuk menampar wajah.
      "Tamparan itu bukan hanya sekali-dua kali, tetapi berkali-kali," ujar Azwar. Azwar Syam saat ini menjadi tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik Palu. Ia mengajar mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
Baca Juga: Mengharukan...! Kisah Prajurit KOSTRAD Yang Menjadi Guru di Perbatasan.
Sejak akhir tahun 1980-an, dia dipindahtugaskan ke Palu sebagai Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut. Dia juga pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Sospol Provinsi Sulteng. Di bidang politik, Azwar pernah menjabat sebagai Ketua Golkar pada masa Orde Baru.

Prabowo melakukan kunjungan ke Palu untuk melantik pengurus DPD Partai yang diketuainya di SULTENG  periode 2016-2021.

Related Posts:

FANTASTIS...! Inilah Jumlah Santunan DEATH GRATUITIES Untuk Tentara Dan Aparat Yang Gugur Saat Bertugas.

Patriot NKRI - Di Indonesia kematian tentara dan polisi saat tugas adalah risiko yang tidak bisa dihindari. Kebijakan memberikan santunan uang duka disebut sebagai death gratuities. Yaitu memberikan santunan uang duka bagi keluarga prajurit dan aparat yang tewas saat perang dalam menjalankan tugas negara (Foto cover: Prajurit TNI dan polisi membawa peti jenazah korban jatuhnya Helikopter TNI AD untuk dimakamkan di TMP Kalibata, Jakata, Selasa (22/3/2016)
Mengapa ini penting? Mereka yang ditinggalkan oleh kepala keluarga yang bertugas sebagai tentara atau polisi, tentu membutuhkan sumber kehidupan untuk menjamin kebutuhan. Pemerintah berupaya untuk menjamin kebutuhan itu, baik sementara dan secara permanen. Death gratuities juga menjadi penghargaan dan apresiasi negara terhadap para petugas negara yang meninggal.
      Dalam laporan tahunan HAM ELSAM tahun 2012 tentang kekerasan sipil dan militer di Indonesia, tercatat ada total 139 peristiwa kekerasan sepanjang 2011. Dari peristiwa kekerasan tersebut menelan 40 korban warga sipil tewas dan 155 luka-luka; 10 polisi tewas dan enam luka-luka, tiga TNI tewas dan 10 luka-luka, dan tiga Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) tewas serta dua luka-luka .
Baca Juga: Heroik..! Kisah 8 Para Raider Tengkorak Taklukkan Lawan di Timor-Timur
Sedang data ELSAM tahun 2013 mencatat delapan kategori kekerasan dengan rincian: total 151 Kekerasan di Papua 2013 peristiwa kekerasan menelan korban 106 warga sipil tewas dan 220 luka-luka; satu polisi tewas dan 10 luka-luka, 13 TNI tewas dan 5 luka-luka; serta terakhir 5 KSB tewas.
      Sepanjang 2014 ELSAM mencatat 102 kasus kekerasan dan pelanggran HAM yang dialami oleh warga Papua. Pada 2015 kekerasan juga masih terjadi dan korban sipil maupun militer berjatuhan. Kasus penembakan dan pembunuhan para aktivis di Kabupaten Yahukimo yang diduga dilakukan aparat Brimob pada 20 Maret 2015. 
     Kasus penembakan di Kabupaten Dogiyai pada 25 Juni 2015. Kasus amuk massa di Kabupaten Tolikara pada 17 Juli 2015. Kasus penembakan di Kabupaten Timika pada 28 Agustus 2015. Dan kasus penembakan hingga mati di Kabupaten Kepulauan Yapen yang membunuh empat orang. Mereka yang meninggal dan mati akibat kekerasan di Papua bukan hanya orang Papua, bukan hanya kelompok sipil bersenjata, namun juga pihak TNI dan Polri. Petugas negara yang tewas saat tugas mendapatkan santunan uang duka dari negara untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. 
Baca Juga: [Video] Saktinya Prajurit TNI, Sampai Bikin Tentara Negara Asing Melongo...
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) 102 Tahun 2015 menggantikan aturan sebelumnya yakni PP Nomor 67 tahun 1991 disebutkan santunan reisiko kematian bagi anggota Polri, TNI dan PNS Kemenhan yang meninggal karena gugur dalam bertugas kini mencapai Rp 400 juta. Sedangkan korban meninggal dalam kategori tewas mendapat santunan Rp275 juta. 
      Konflik bersenjata di Indonesia membunuh banyak warga sipil dan militer. Upaya memutus rantai kekerasan ini, seperti di Papua, membutuhkan perubahan cara pandang aparat, politik, dan kebijakan keamanan di Papua, secara mendasar. Namun selama pendekatan keamanan berbasis militer dan represif menjadi pilihan solusi, selamanya, maka potensi kematian putra-putra terbaik dari polisi dan tentara masih terus terbuka.
   Tidak semua yang meninggal saat tugas diberikan santunan risiko kematian. Ada beberapa kriteria khusus yang dibuat. Ada kriteria "Gugur" di mana Prajurit dan PNS Kemhan yang meninggal dunia dalam melaksanakan tugas pertempuran atau tugas operasi di dalam atau di luar negeri sebagai akibat tindakan langsung lawan. 
Baca Juga: Sholat Di Medan Perang Sambil Kokang Senjata, Tentara-Tentara Ini Getarkan Netizen..!!. Kamu Harus Lihat Ini..!!
Santunan kematian
    Tidak hanya mendapatkan uang dari santunan risiko kematian, keluarga petugas negara yang masuk kategori "gugur" mendapatkan santunan kematian berdasarkan jabatan sebesar Rp17.000.000,00 (tujuh belas juta rupiah); dan sementara untuk bintara dan tamtama Tentara Nasional Indonesia, bintara dan tamtama Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan PNS yang menduduki jabatan pelaksana sebesar Rp15.500.000,00 (lima belas juta lima ratus ribu rupiah). Keluarga yang ditinggal juga mendapatkan bantuan beasiswa pendidikan untuk anak mereka sebesar 30 juta rupiah. 
      Sementara untuk polisi masuk kategori "Gugur" apabila anggota Polri dan PNS Polri yang meninggal dunia dalam tugas kepolisian sebagai akibat dari tindakan langsung lawan atau yang menentang negara atau pemerintahan yang sah. Masing-masing mendapatkan 400 juta rupiah. Misalnya tewas tertembak oleh perampok yang hendak dilumpuhkan. 
      Data dari Humas Polda Metro Jaya menyebut sejak 2011 hingga Mei 2016 sebanyak tujuh orang gugur dalam tugas. Mayoritas korban ditembak saat hendak menangkap pelaku tindak kriminal. Beberapa kasus yang tercatat di media adalah kematian personel Polda Metro jaya yang meninggal pada Juni 2011 di kawasan Pondok Gede, Bekasi. Di awal Agustus 2013, anggota Polres Metro Jakarta Selatan meninggal dunia setelah ditembak orang tidak dikenal saat berjaga di Pos Pengamanan Terminal Lebak Bulus.
Baca Juga: NGERI...!! Inilah Sepak Terjang Intel WANITA Korea Utara Yang Pernah Bikin Dunia GEMPAR...!!!
Selang seminggu, insiden serupa terjadi, dua personel Polres Kota Tangerang meninggal dunia setelah ditembak orang tidak dikenal saat hendak kembali ke kantornya usai tugas. Dua peristiwa lainnya terjadi tahun 2016. Data dari Indonesia Police Watch (IPW) mencatat, sepanjang tahun 2015, sebanyak 18 anggota Polri tewas dalam tugas dan sebanyak 74 lainnya luka-luka. Data tersebut dihimpun dari seluruh Indonesia.

Ada beberapa daerah yang dianggap sangat rawan dan berbahaya bagi polisi, yaitu Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, yang pada 2015 terjadi masing-masing empat peristiwa. Disusul Sulawesi Tengah dan Sumatra Utara tiga peristiwa. Selain itu, di Papua, Lampung, Sumatra Selatan, Jawa Timur, dan Gorontalo masing-masing dua peristiwa. Sementara di Jawa Tengah, Yogyakarta, Maluku, dan Nusa Tenggara Barat masing-masing terjadi satu peristiwa. 

Baca Juga:


Sumber: tirto.id

Related Posts:

Tuhan Saja MAHA PEMAAF, Apalagi Kita...!

Patriot NKRI - TNI AD memaafkan Iwan Bopeng, yang aksinya menjadi viral di media sosial karena berkata kasar tentang tentara. Kadispen TNI AD Brigjen Sabrar Fadhilah berharap kasus serupa tidak terulang di kemudian hari.
    "Tuhan saja maha-pemaaf, apalagi kita," kata Fadhilah saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut di Mabes TNI AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Jumat (24/2/2017).
Baca Juga: Dor...! Dor...!...Bak DJANGO, Prajurit Sutarmono Robohkan 3 Tentara Belanda di Irian. Heroik...!
Aksi Iwan yang menjadi viral itu terjadi di TPS 26, Kelurahan Palmeriam, Jakarta Timur, saat hari pencoblosan 15 Februari lalu. Ia melontarkan ungkapan emosionalnya kepada seseorang di TPS dengan kata-kata kasar dan menyinggung tentara.
   Kata-kata Iwan yang memantik kemarahan netizen adalah 'Itu anak siapa itu, tentara gue potong di sini ya, apalagi elu'. Video yang menggambarkan kemarahan prajurit TNI karena ucapan Iwan juga beredar di dunia maya.
      Meski dimaafkan, Fadhilah berharap, permasalahan Iwan Bopeng diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ia juga berharap agar polemik mengenai aksi Iwan Bopeng yang membawa-bawa nama tentara bisa segera mereda. "Harapannya tidak terulang. Diproses sebagaimana mestinya saja. Saya berharap bisa selesai dengan baik," tuturnya.
   Mengenai respons kemarahan prajurit kepada Iwan, Fadhilah menilai itu sebagai hal yang wajar. Sebab, perkataan Iwan memang tidak pada tempatnya. "Wajar, jadi orang marah karena perkataan yang tidak tepat pada saat yang tidak tepat," ujar Fadhilah.
Baca Juga: LUCU & Dramatis: Kisah Kopassus SERGAP Musuh di Belantara Jabar
Iwan sendiri telah meminta maaf atas aksinya yang kemudian menjadi viral itu. Ucapan tersebut ia unggah lewat YouTube. Terkait dengan video Iwan Bopeng yang menjadi viral, pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan.
      "Ya, diselidiki dulu kebenaran video tersebut. Kan harus tahu dulu video itu benar atau tidak," terang Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dihubungi detikcom, Minggu (19/2).

Baca Juga:


Related Posts:

Keberanian Tanpa Tanding...! Biarkan MATAKU Terbuka, Aku Ingin Melihat PELURU Penjajah Menembus Dadaku...!

Patriot NKRI - Suasana mendadak riuh saat dia memberondongkan senapannya ke area tangsi Belanda. Para penghuninya pun panik, bubar, dan lari menyelamatkan diri ke segala penjuru.
      Usai menamatkan pendidikan dasarnya, Bote langsung merantau. Pergilah ia ke Manado untuk melanjutkan studi ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)  di Manado. MULO adalah sekolah menengah pada masa pemerintahan kolonial Belanda (Foto cover: ilustrasi hukuman tembak mati). 
Baca Juga: Komando..! Komando..! Semua tiarap..! Tiarap!...Detik-Detik Paling MENEGANGKAN Bagi Kopassus. Dunia Terperangah..!
Bote lulus dari MULO ketika kekuasaan Belanda di Indonesia baru saja berakhir, digantikan oleh pendudukan militer Jepang sejak tahun 1942. Ia kemudian masuk ke dua sekolah sekaligus, yakni sekolah pertanian bentukan Jepang dan Sekolah Keguruan Bahasa Jepang, keduanya di Tomohon.
     Mengantongi kemampuan berbahasa Jepang, ia pulang ke Malalayang dan menjadi guru di sana. Bote yang pada saat itu berusia 18 tahun juga mengajar di beberapa daerah lainnya seperti Minahasa, Liwutung, hingga Luwuk Banggai. Tapi, 2 tahun berselang, tak lama setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Bote hijrah ke Makassar.
     Di pusat peradaban Sulawesi Selatan itu, Bote atau yang kini sudah cukup dikenal dengan nama aslinya, Robert Wolter Monginsidi, terhenyak karena kemerdekaan yang baru dinikmati sesaat tiba-tiba terancam. Belanda datang lagi dengan wujud anyar: Netherlands Indies Civil Administration alias NICA dengan tujuan berkuasa kembali di Indonesia. 
      Tak pelak, darah muda Bote mendidih, dan dengan tegas ia memutuskan untuk ikut serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di usianya yang masih remaja. Robert Wolter Monginsidi turut dalam pembentukan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 17 Juli 1946.
    Meski masih belia, keberanian Monginsidi sudah teruji. Beberapa kali ia turut dalam peperangan melawan NICA yang bersenjatakan lebih canggih. Kecakapan inilah yang membuatnya dipercaya menjadi salah satu pimpinan LAPRIS. Ia memimpin pasukan sendiri untuk memberikan tekanan terhadap Belanda di Makassar dan sekitarnya.
Baca Juga: Heboh...! Panglima Perintahkan Prajurit TNI Tidur di Rumah Warga, Ada Apa?
Secara struktural, jabatan Monginsidi di LAPRIS adalah sekretaris. Namun, ia juga berperan sebagai perencana operasi militer dan tak jarang harus menyamar untuk menentukan sasaran (Agussalim, Prasejarah-Kemerdekaan di Sulawesi Selatan, 2016:219). Cukup banyak serangan LAPRIS yang berhasil berkat informasi Monginsidi.
Keberanian Tanpa Tanding
     Salah satu sudut Kota Makassar itu masih sepi ketika sebuah jip militer milik Belanda menembus sunyi menuju tangsi. Di depan sana, telah menunggu 4 orang, berpakaian tentara juga yang tidak lain adalah Monginsidi bersama 3 pejuang lainnya yaitu Abdullah Hadade, HM Yoseph, dan Lewang Daeng Matari.
      Jip dihentikan, Monginsidi menodongkan pistol ke arah kepala satu-satunya orang yang ada di mobil itu, seorang kapten rupanya. Seragam dan tanda pangkat sang kapten dilucuti, lalu dikenakan oleh Monginsidi. Mobil pun diambil-alih, Monginsidi dan seperkawanan menjalankannya ke arah tangsi. Tak dikenali,mereka berhasil masuk ke kandang musuh. Suasana mendadak riuh saat Monginsidi memberondongkan senapannya ke area tangsi. Para penghuninya pun panik, bubar, dan lari menyelamatkan diri ke segala penjuru.
Baca juga: Balada Sang PAHLAWAN Kemerdekaan RI dari KOREA - YANG CHIL SUNG: Gugur di Ujung Peluru Regu Tembak PENJAJAH. Permintaan TERAKHIRNYA Bikin Merinding...!
Salah satu aksi heroik Monginsidi lainnya terjadi sepanjang pekan ketiga Januari 1947. Pasukannya terlibat kontak senjata dengan pihak Belanda dan berhasil memukul mundur lawan (Syahrir Kila, Kelaskaran 45 di Sulawesi Selatan, 1995:87). Beberapa hari kemudian, terjadi saling tembak-menembak lagi. Monginsidi nyaris saja tertangkap, tapi lolos.
   Serangkaian perlawanan itu membuat Belanda kini mengenali sosok Monginsidi dan menggelar beberapa kali razia besar-besaran untuk menangkapnya. Tanggal 28 Februari 1947, ia terjaring dan dipenjarakan.
   Pada 27 Oktober 1947, kawan-kawan seperjuangan Monginsidi berhasil menyelundupkan 2 granat yang dimasukan ke dalam roti. Granat pun diledakkan, seisi kompleks penjara kacau-balau. Melalui cerobong asap dapur, Monginsidi dan ketiga rekannya berhasil melarikan diri.
    Setahun berselang, Monginsidi terkepung di sebuah gang. Ia tidak mengira posisinya diketahui oleh Belanda. Monginsidi sebenarnya punya sebuah granat yang bisa saja ia lemparkan. Tapi, terlalu tinggi risikonya karena gang tempatnya terkepung itu juga menjadi area pemukiman warga. Monginsidi pun akhirnya menyerah demi keselamatan rakyat.
Baca juga: Menegangkan...! 15 Prajurit KOPASKHAS vs Pasukan INTERFET: Kalah Jumlah, GRANAT Siap Bicara dan Tempur HABIS-HABISAN
Tangan dan kaki Monginsidi dibelenggu dengan rantai, kemudian dikaitkan ke dinding tembok tahanan di Kiskampement Makassar. Dalam masa itu, Belanda kerap membujuk Monginsidi agar mau bekerjasama, tapi ia selalu tegas menolak. Akhirnya, pada 26 Maret, ia divonis akan menjalani hukuman mati.
Mati dengan Kebanggaan
    Pihak Belanda masih sempat menyarankan kepada Monginsidi mengajukan grasi agar mendapatkan pengampunan, setidaknya lolos dari vonis mati, dengan syarat, ia bersedia bekerjasama. Tapi, Monginsidi tetap tidak mau. Ia memang telah dikhianati, namun ia anti menjadi pengkhianat.
     “Minta grasi? Itu berarti mengkhianati keyakinan sendiri dan teman-teman. Salam pada teman-teman. Saya setia sampai mati!” serunya lantang (Yusuf Bauti, Intisari, Maret 1975).
    Selama menunggu maut menjemput di sel tahanan, Monginsidi kian mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, Monginsidi juga sempat mengguratkan sejumlah catatan berisi pesan-pesan perjuangan, bahwa ia pantang menyerah, bahwa ia tak pernah takut maut demi harga diri dan bangsa.
Baca juga: Kalau Kalian Takut, PULANG SAJA...! Biar Saya HADAPI Sendiri...!!: Kisah Perwira AURI TAKLUKKAN Kepungan Ribuan Tentara GHAIB Di Pedalaman Jawa
“Saya telah relakan diri sebagai korban dengan penuh keikhlasan memenuhi kewajiban buat masyarakat kini dan yang akan datang. Saya percaya penuh bahwa berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan yang Maha Esa.”
   “Perjuanganku terlalu kurang, tapi sekarang Tuhan memanggilku. Rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi. Semua air mata dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kokoh untuk tanah air kita yang dicintai Indonesia.”
     Begitu bunyi sebagian guratan pena bermakna Monginsidi dari dalam penjara yang ditulisnya di lembaran kertas dengan judul “Setia Hingga Terakhir dalam Keyakinan”.

Hari penghakiman datang juga. Senin, 5 September 1949 dini hari, Monginsidi dibawa ke hadapan regu tembak. Mata dan hatinya terbuka menghadapi eksekusi. Monginsidi ingin menikmati saat-saat terakhirnya dengan kebanggaan, “Saya jalani hukuman tembak mati ini dengan tenang, tidak ada rasa takut dan gentar demi kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta.”

Sesaat sebelum pelatuk ditekan, Monginsidi berucap kepada para algojo di hadapannya, “Laksanakan tugas, saudara! Saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan. Saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saudara-saudara.“

“Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku,“ tambahnya. 
Baca juga: MAY DAY MAY DAY...!! Pak TOLONG Pak, Ada Beberapa Perahu Cepat Mau MEMBAJAK Lagi...!!!
Dan, bersamaan dengan tiga kali pekikan merdeka, 8 peluru menembus raganya: 4 di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 di pelipis kiri, dan 1 di tepat pusar. Monginsidi tersimpuh, gugur pada waktu subuh di umur yang juga masih terbilang dini, 24 tahun. 

Sumber: tirto.id

Related Posts:

MAY DAY MAY DAY...!! Pak TOLONG Pak, Ada Beberapa Perahu Cepat Mau MEMBAJAK Lagi...!!!

Patriot NKRI - Uang US$ 3 juta sudah disetorkan kepada para bajak laut Somalia yang menguasai kapal MV Sinar Kudus dan belasan ABK. Uang itu 'terpaksa' diberikan PT Samudera Indonesia sebagai pemilik kapal demi keamanan para ABK  (Foto Cover: Ilustrasi Perompak Somalia).
    Dalam buku 'Satgas Merah Putih: Memburu Perompak Somalia' yang diterbitkan Markas Komando Korps Marinir, terungkap bahwa sebenarnya Tim Satgas Merah Putih sudah siap menyerbu para perompak dan melakukan penyelamatan.
Baca Juga: Inilah DENJAKA: Pasukan ELIT Indonesia Yang Mendapat Label GODZILLA. Seleksinya GILA-GILAAN..!
"Kalkulasi perkiraan korban kurang lebih 17 orang, yaitu 12 orang dari personel pasukan khusus yang melaksanakan ship boarding atau serbuan ke kapal dan kurang lebih 5 orang ABK MV Sinar Kudus atau sandera," demikian penjelasan di buku yang ditulis Emir Saufat seperti dikutip detikcom, Jumat (4/7/2014).
    Satgas dikomandani Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin serta pasukan Marinir Denjaka, Pasukan Katak, Tontaipur Kostrad, dan Kopassus sudah siap tempur. Tapi entah mengapa penyergapan yang sejatinya dilakukan pada 15 April tak jadi dilakukan. Alasan utamanya negosiasi masih dilakukan.
    Hingga akhirnya, pada 30 April 2011 sesuai kesepakatan dengan para pembajak ditentukan sebagai hari penyerahan uang. Dengan menggunakann pesawat Antonov, parasut uang dijatuhkan ke perairan di sekitar MV Sinar Kudus yang labuh jangkar di perairan Cheel Dhahanan, Laut Arab.
    Penyerahan ini diperantarai konsultan Paradin yaitu Joni Yang dan Nick Nash. Konsultan ini yang menjadi jembatan PT Samudera Indonesia dan para pembajak. Seorang perwira dari BIN Kolonel PSK Andrian Watimena berada dalam pesawat itu.
"Setelah dipastikan semua ABK aman, uang dijatuhkan. Para pembajak meminta waktu 5 jam untuk meninggalkan kapal sambil menghitung uang yang diambil dengan kapal kecil mereka," tulis buku itu.
    Total ada 35 pembajak di kapal MV Kudus. 16 Menjaga di anjungan kapal dan 17 menghitung uang di geladak. Tapi kesepakatan tinggal kesepakatan, para pembajak ini rupanya seolah ingin memberikan kapal ke kelompok pembajak lain di perairan Eyl Somalia.
    Satu persatu dengan perahu kecil, mereka meninggalkan MV Kudus. Tapi ya itu tadi, ada pembajak lain yang datang. MV Sinar Kudus pun meminta bantuan dan sinyal darurat, may day may day. Namun dua KRI Yos-353 dan KRI AHP-355 tak mendengar sinyal itu.
   Sinyal darurat itu terpantau USS Brain Bridge DDG 96 yang kemudian memberitahu sinyal darurat itu. "May day may day. Pak tolong pak, ada beberapa perahu cepat mau membajak lagi," tulis di buku itu menirukan ucapan para ABK.
Baca Juga: [MINGGU NERAKA]...! Inilah Latihan HELL WEEK Kopaska TNI AL Yang Bikin Dunia Merinding..!
Dansatgasus Merah Putih Mayjen TNI Alfan segera memberi perintah dari KRI Banjarmasin yang masih berjarak cukup jauh dari MV Sinar Kudus. Dua kapal yang lebih dekat itu diminta mengerahkan sea rider dan heli untuk menghalau pembajak yang mendekat.
     Lewat kontak radio, Mayjen TNI (Mar) Alfan juga meminta agar para ABK membawa pentungan besi atau apapun menghalau para perompak apabila naik ke atas kapal. Beruntung tak lama heli dan sea rider Denjaka datang. Para perompak diberi tembakan peringatan. Sempat terjadi tembak menembak. Dengan sea rider TNI juga mengejar para perompak yang kabur.
Kapal MV SInar Kudus

Pasukan SATGAS Merah Putih
Sejumlah kapal kecil milik para pembajak bisa ditenggelamkan dan para perompak tenggelam di laut. Para perompak yang lain berhasil dipukul mundur dan kembali ke pantai. 
Baca Juga: [Video] Saktinya Prajurit TNI, Sampai Bikin Tentara Negara Asing Melongo...
Kapal MV Sinar Kudus pun kembali dikuasai. 1 Mei 2011 Kolonel Marinir Suhartono pimpinan tim penyerbuan melakukan koordinasi dan pengecekan kelengkapan personel. 4 Perompak dilumpuhkan dan satu skiff yang mengancam MV Sinar Kudus berhasil diamankan.

Sumber: detik.com

Related Posts:

Tragis...! Begini NASIB Iwan Bopeng SEKARANG...!!!

Patriot NKRI - Perilaku yang ditunjukkan Fredy Tahuney alias Iwan Bopeng di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 27 Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur, pada hari pelaksanaan Pilkada DKI, Rabu (15/2) lalu, sempat memicu kemarahan dari kalangan prajurit TNI. Kemarahan mereka disebabkan oleh kata-kata Iwan yang dinilai melecehkan tentara.
      Berdasarkan penelusuran Republika.co.id, Iwan Bopeng dahulu pernah tinggal di RW 06 Palmeriam. Selama menetap di kawasan tersebut, pria itu tidak terlalu banyak bergaul dengan masyarakat setempat.
Baca Juga: VIDEO: TANTANGAN Sejumlah Orang Dan Anggota TNI Ladeni IWAN BOPENG Yang Ingin Potong Tentara
"Dulu dia (Iwan) tinggal di RT 07 RW 06 ini. Tapi kami tidak tahu pekerjaan sehari-harinya itu apa, karena jarang ada warga di sini yang mau dekat sama dia," kata salah seorang warga RW 06 Palmeriam, Heri Novriadi (29 tahun), kepada Republika.co.id, Selasa (21/2).
      Dia menuturkan, sejak kasus Iwan mulai mencuat di media massa, cukup banyak tentara yang menyambangi Palmeriam selama beberapa hari belakangan ini. Sebagian dari mereka ada yang datang menggunakan mobil, ada pula yang mengendarai sepeda motor.
      "Sekitar dua hari lalu, saya lihat ada tentara berseragam loreng yang keliling di kawasan ini pakai sepeda motor. Saya pikir, mungkin dia mencari Iwan. Karena beberapa hari sebelumnya juga pernah ada serombongan tentara berpakaian sipil yang nyariin itu orang," ujar Heri.
      Menurut lelaki yang berporfesi sebagai pengemudi ojek online itu, kasus Iwan kini sudah menyedot perhatian banyak warga di Ibu Kota, termasuk masyarakat Palmeriam. Di daerah tempat tinggalnya, nama Iwan menjadi kian terkenal sejak videonya menyebar di laman Youtube. "Padahal dulu enggak semua orang di sini tahu sama Iwan. Tapi sejak videonya menyebar di internet, orang-orang jadi pada kenal sama mukanya," kata Heri lagi. Nama Fredy Tahuney alias Iwan Bopeng kerap mengisi pemberitaan sejumlah media massa di Ibu Kota sepekan terakhir. Itu karena ulahnya yang membuat keributan di TPS 27 Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur, pada hari pelaksanaan Pilkada DKI 2017. Menurut rekaman video yang tersebar di laman Youtube, Iwan ketika itu sempat mengamuk sambil melontarkan kalimat 'tentara gue potong di sini, apalagi elu'. Tak pelak, kata-katanya itu menuai kemarahan banyak orang, terutama kalangan prajurit TNI.
      Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar mengatakan penyidik akan memanggil Fredy Tuhenay alias Iwan Bopeng untuk dimintai keterangan terkait ucapan sesumbar terhadap tentara yang kini viral di media sosial.
"Ya toh jelas diperiksa," kata Argo di Polda Metro Jaya, Senin (20/2/2017). Namun, Argo belum dapat menyebutkan kapan Iwan akan menjalani pemeriksaan. Dia meminta wartawan menunggu kabar. "Ya tunggu aja nanti. Kami kan sedang penyelidikan," kata dia.
      Dari hasil penyelidikan sementara, Argo belum dapat menyimpulkan apakah Iwan Bopeng merupakan tim sukses pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat atau bukan. Indikasi Iwan Bopeng ada kaitan dengan tim Ahok adalah ketika dia sedang marah-marah saat pencoblosan calon gubernur dan wakil gubernur, dia mengenakan kemeja kotak-kotak khas kampanye Ahok-Djarot. "Kami kan belum memeriksa dia. Kami harus sesuai fakta. Kalau memang itu nanti dia orang siapa, pendukung siapa, nanti kan ketahuan setelah diperiksa," kata dia.
      Iwan Bopeng mencak-mencak di tempat pemungutan suara nomor 27, Jalan Penggalang, gang IV, Kelurahan Palmeriam, RW 10, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (15/2/2017). Dia marah karena ada rekannya yang hak pilihnya tidak diakomodir petugas lantaran dianggap tidak memenuhi persyaratan. Ketika sedang ngomel-ngomel, dia keceplosan. "Siapa tuh anak kecil tadi hey, tentara gue potong di sini, apalagi elu ye..." katanya. Kalimat inilah yang membuat sebagian tentara dan publik mengecamnya habis-habisan.
Baca Juga: Kalau Kalian Takut, PULANG SAJA...! Biar Saya HADAPI Sendiri...!!: Kisah Perwira AURI TAKLUKKAN Kepungan Ribuan Tentara GHAIB Di Pedalaman Jawa
Sebelumnya, tim sukses pasangan Ahok-Djarot, Merry Hotma, membantah jika Iwan Bopeng merupakan tim sukses. "Saya belum mendalami itu ya mas. Yang pasti dia bukan tim pemenangan. Dia (Iwan Bopeng) bukan timses. Dia nggak terdaftar di timses Badja (Basuki - Djarot)," ujar Merry Hotma kepada Suara.com. 
     Namun, Merry Hotma belum dapat memastikan apakah Iwan Bopeng merupakan kader partai pengusung Ahok - Djarot. "Itu yang aku belum tahu (Iwan kader parpol atau bukan). Kepastiannya belum tahu. Kalau persisnya kenapa saya kurang begitu mendalami, karena saya kerja di lapangan mengurusi laporan di TPS," kata dia. 
Sekretaris DPW Partai Nasional Demokrat Jakarta Wibi Andrino mengaku tidak mengenal Iwan Bopeng. Dia menegaskan Iwan bukan kader Nasdem. 

"Coba saja cek ke Bu Merry Hotma. Kalau bagian kampanye kan Merry Hotma. Kalau gue lihat bukan orang Nasdem dia (Iwan)," kata Wibi.

Sejak video Iwan Bopeng sesumbar potong tentara viral di media sosial, netizen ikut mengecamnya. Bahkan, setelah Iwan Bopeng mengakui salah dan meminta maaf kepada tentara, netizen terus mencacinya.

Related Posts:

BERSIHKAN...! TANGKAP DULU SEMUA ORANG YANG ADA DI SITU !!... Kisah PASUKAN KHUSUS TNI Hanya Butuh 20 MENIT Untuk Rebut RRI Dari Tangan PKI


Jiwa Patriot - Komandan Tjakrabirawa Letnan Kolonel Untung Syamsuri memimpin pasukan untuk menculik seluruh perwira tinggi Angkatan Darat. Penculikan ini berlangsung pada malam hari 30 September 1965. Jenderal Ahmad Yani, Abdul Haris Nasution dan 8 jenderal lainnya menjadi target utama untuk dibungkam (Foto Cover: Scene Perebutan Gedung RRI & Kolonel Sarwo Edhie Wibowo ditengah rakyat).

Sehari setelah peristiwa penculikan berlangsung, Untung memerintahkan sejumlah pasukan bernama 'Divisi Ampera' untuk menguasai Radio Republik Indonesia (RRI). Lewat media inilah Untung mengumumkan pengambilalihan kekuasaan sekaligus membentuk 'Dewan Revolusi' menggantikan 'Dewan Jenderal'.
Baca Juga: KALAU TAK ADA LAGI YANG SANGGUP, SAYA SAJA YANG MASUK... Kisah DRAMATIS Sang KOMANDAN Marinir Mengangkat Jenazah Pahlawan Revolusi dari LUBANG MAUT
Tindakan yang dilakukan Untung ini tak hanya membingungkan rakyat, seluruh petinggi militer juga terkejut mendengar berita tersebut. Tak ingin berlama-lama, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Kolonel Sarwo Edhie Wibowo bergerak cepat. Dia meminta pasukannya menyerbu RRI dan merebutnya dari tangan Untung.

Kedua belah pihak memandang RRI memiliki posisi yang sangat penting. Untung yang merupakan pemimpin dari gerakan revolusi memandang RRI dapat menggerakkan seluruh simpatisan PKI di Indonesia agar mendukung upaya mereka merebut kekuasaan. Bagi TNI, RRI bisa memecah belah konsentrasi pasukan pemberontak.

Untuk merebut RRI, Kolonel Sarwo Edhie menunjuk Letnan Dua Sintong Panjaitan sebagai komandan pasukan. Dalam waktu singkat, Sintong memenuhi perintah tersebut dan berhasil mengumpulkan pasukan. Sebelumnya, Sarwo Edhie mengungkapkan dapat merebut RRI hanya dalam waktu 20 menit.

Saat matahari mulai terbenam, pasukan mulai bergerak menuju lokasi yang ditentukan. Di saat bersamaan, beberapa pasukan yang sempat berjaga di Monas sudah ditarik kembali ke markasnya masing-masing. Kondisi ini membuat RPKAD lebih mudah bergerak.

Mereka bergerak dari Markas Komando Strategis Angkatan Darat (Makostrad) menuju RRI dengan berjalan kaki. Pasukan ini dibagi tiga, ada yang bergerak lurus, ada pula yang bergerak mengitari bagian selatan maupun utara Monas.
Baca Juga: LUAR BIASA...!! Inilah Berbagai Makanan AJAIB Serdadu: Santap INI, Kamu Akan POWERFUL, KENYANG dan STRONG Seharian...!!! 

Setelah tiba di gerbang, pasukan RPKAD mengintai keadaan di luar RRI. Mereka menemukan sejumlah orang berjaga di depan.

Salah satu peleton yang bergerak untuk merebut RRI mulai melepaskan tiga kali tembakan. Tindakan ini ternyata efektif untuk mengusir pasukan ilegal tersebut. Mereka lari tunggang langgang saat mendengarnya dan meninggalkan tugasnya. Alhasil, perebutan RRI berlangsung tanpa perlawanan.

 Setelah dirasa aman, pasukan mulai memasuki gedung satu per satu. Mereka memeriksa bagian per bagian ruangan, serta membebaskan karyawan yang disandera kelompok Untung. Lalu, Letda Sintong melaporkan keberhasilannya kepada Lettu Feisal Tanjung. 

Tapi masalah belum selesai. Kolonel Sarwo Edhie rupanya tak percaya dengan laporan yang disampaikan Sintong selaku komandan. Dia meminta Sintong kembali mengecek seluruh gedung.

"Apa? RRI sudah diduduki? Coba kamu periksa seluruh ruangan dulu. Itu aktivitas mereka masih di dalam!" tegas Sarwo Edhie, seperti dikutip dari buku 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando', karya Hendro Subroto terbitan Kompas Gramedia.

Perintah ini membuatnya bingung, apalagi dia sudah memeriksa seluruh bagian dan tak menemukan satu pun tempat yang masih beroperasi. Setelah yakin, dia kembali melaporkannya. Namun jawaban yang diterima tetap sama.

"Laporanmu tidak benar. Kamu bersihkan dulu sampai bersih. Jangan buru-buru kamu lapor. Tangkap dulu semua orang yang ada di situ," sahut Sarwo Edhie menjawab laporan Sintong.
Baca Juga: Video Kocak...! Youtuber Rusia Mencoba Ransum TNI. Lihat Reaksinya...!
Tidak lama, Sintong baru menyadari pengumuman yang masih terus mengudara itu berasal dari tape recorder. Kaset tersebut terus berputar meski tak ada yang mengoperasikannya. Demi menghentikannya, dia sempat ingin merusaknya dengan memukulkan popor senjata, namun tindakan ini segera dicegah salah satu karyawan dan menekan tombol off.

Segera setelah RRI diduduki, Kepala Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat Brigadir Jenderal Ibnu Subroto mulai menyiarkan pengumuman lanjutan. Dia membacakan pesan yang ditulis Mayor Jenderal Soeharto selaku perwira tinggi satu-satunya di TNI.

Setelah pembacaan selesai, rupanya temuan tape recorder yang berisi siaran propaganda dari PKI menggelitik seorang perwira senior menyindir Sintong. "Ah kampungan kamu. Masak kamu tidak tahu kalau siaran G30S/PKI itu berasal dari tape recorder?"

Mendengar itu, komandan peleton Sintong langsung menjawab dengan nada bercanda. "Ya, tadi saya mendapat perintah untuk menangkap orangnya," jawabnya disambut tawa.
Baca juga: Aksi Heroik Dan Menegangkan..! Duel Maut Sampai Mati: Satu Lawan Satu Kopassus vs Gerilyawan PGRS
Keberhasilan ini telah membalikkan keadaan. Letkol Untung yang semula berada di atas angin mulai terdesak. Seluruh tentara yang sempat terjebak kembali ke kesatuannya masing-masing. Dalam waktu singkat, seluruh upaya kup berhasil diredakan.

Sumber: merdeka.com

Related Posts:

Ketika Ribuan PASUKAN MAUNG Turun Gunung Mengikuti Perintah Jenderal Besar Soedirman...!




Jiwa Patriot - Para pasukan maung itu lantas bermunculan dari gunung dan hutan. Jumlahnya tidak main-main, ada sekitar 29.000 siap untuk turun gunung. Sorot mata mereka terlihat bersemangat dan kuat.

Perintah Kolonel AH. Nasoetion itu datang begitu tiba-tiba. Namun sebagai petugas intelijen Divisi Siliwangi, Letnan Muda Soedarja harus melaksanakan intruksi panglimanya tersebut: menjadi perwira penghubung dengan pihak militer Belanda dalam pelaksanaan mobilisasi terkait hasil Perjanjian Renville di Sumedang (Foto Cover: Maung atau Harimau yang merupakan simbolisasi Pasukan Siliwangi).
Baca Juga: KALAU TAK ADA LAGI YANG SANGGUP, SAYA SAJA YANG MASUK... Kisah DRAMATIS Sang KOMANDAN Marinir Mengangkat Jenazah Pahlawan Revolusi dari LUBANG MAUT
Langkah pertama yang dilakukan oleh Soedarja adalah berkoordinasi dengan wakil  dari pihak militer Belanda. Berdasarkan kesepakatan dengan Letnan Kolonel JJ. Malta, perwira menengah dari Divisi 7 Desember , ia harus menyampaikan sepucuk surat kepada  Kapten Sentot Iskandardinata dari Batalyon 27. Isinya: perintah Kolonel AH. Nasoetion agar “para maung ” (artinya para harimau: julukan untuk para prajurit Divisi Siliwangi) turun gunung dan berangkat hijrah ke wilayah Jawa Tengah.

MENJELANG HIJRAH. Seorang perwira Divisi Siliwangi tengah berunding dengan seorang perwira militer Belanda dan seorang pengawas dari Prancis menjelang pemindahan pasukan TNI d iPerkebunan Ramawati, Sukabumi. 

Dampak Perjanjian Renville

Bersama Letnan Omon dan tiga serdadu Belanda, dengan menggunakan truk militer, pagi sekali Soedarja sudah berangkat ke hutan Rancakalong. Selama perjalanan, Soedarja sempat ketar-ketir. “ Bayangkan saja, saya harus pergi ke “gua harimau” bersama tentara Belanda, bisa-bisa sampai sana saya didorhos (ditembak) sama anak buah Pak Sentot,” kenang lelaki yang saat ini berusia 91 tahun itu seraya tertawa.

Untunglah, Letnan Omon dikenal baik oleh sebagian prajurit Yon 27. Setelah menerangkan maksud dan tujuan serta memperlihatkan surat perintah dari Kolonel AH. Nasoetion, mereka kemudian dihadapkan kepada Kapten Sentot. Komandan Batalyon 27 itu sempat mengernyitkan dahinya kala membaca surat perintah itu. Raut kekecewaan nampak memenuhi wajahnya. Namun setelah Soedarja memperlihatkan surat kabar yang memuat berita tentang tercapainya Perjanjian Renville, perwira yang tak lain adalah putera dari pahlawan nasional Otto Iskandardinata tersebut akhirnya hanya bisa mengangguk lemas.

Disiplin Tentara

“Pada mulanya tentu saja ia kecewa seperti juga halnya saya,” kenang mantan perwira dari Seksi I (Bagian Intelijen) Divisi Siliwangi tersebut. Sesungguhnya, kekecewaan bukan hanya milik Letnan Muda Soedarja dan Kapten Sentot saja. Seluruh prajurit Siliwangi merasakan hal yang sama. Namun bagi mereka, perintah adalah perintah. Betapapun beratnya hati mereka untuk menghentikan perlawanan dan turun gunung, tugas mereka sebagai tentara tak lebih hanya disiplin kepada  garis komando tertinggi sesuai pidato Panglima Besar Jenderal Soedirman saat itu: “…kepentingan negara harus di atas kepentingan sendiri…Tentara harus tetap memperlihatkan sikap disiplinnya!..”
Baca Juga: Kisah Gerilyawan VIETKONG Suguhi Nasi PECEL Untuk TNI Di Tengah Moncong Senjata Siap Tembak
Para Maung Bermunculan

Para maung lantas bermunculan dari gunung dan hutan. Roeqojah Noeraini (78) masih ingat, bagaimana  kondisi para prajurit muda itu. ”Pakaian mereka compang-camping, sebagian tanpa alas kaki dan badan mereka kurus-kurus karena kurang makan namun terlihat kuat dan bersemangat,” ujar penduduk Sumedang yang waktu itu masih berusia 11 tahun itu.

Pada 1 Februari 1948, sekitar 29.000 prajurit Siliwangi beserta keluarganya yang datang dari seluruh Jawa Barat (kecuali Banten)  dikumpulkan di Cirebon. Dari kota udang itu,  sebagian dari mereka lantas diangkut dengan kapal Belanda bernama Plancius  menuju Pelabuhan Rembang. Sebagian lagi diangkut  dengan kereta api untuk diturunkan di Stasiun Gombong lantas berjalan kaki atau menggunakan truk-truk militer Belanda ke daerah republik.

Dielu-elukan Rakyat

Sepanjang perjalanan menuju daerah republik, rakyat banyak mengelu-elukan anak-anak Siliwangi. Di daerah Cirebon (saat itu masuk dalam wilayah pendudukan Belanda), tak henti-hentinya orang-orang memekikan kata “merdeka” setiap melihat para maung berbaris menuju stasiun kereta api dan pelabuhan. “ Untuk menghentikan histeria rakyat tersebut, tentara Belanda yang mengawal para prajurit Siliwangi itu tak jarang menembakan senjatanya ke udara,” tulis Himawan Soetanto dalam Yogyakarta, 19 Desember 1948.

BERSIAP HIJRAH. Para prajurit Siliwangi dan keluarga bersiap hijrah ke Jawa Tengah
Seorang mantan petarung Siliwangi asal Ciamis, Kopral (Purn) Soehanda (90) berkisah bahwa tak jarang sambil melakukan pengawalan, para prajurit Belanda dari kesatuan baret hijau (DST; pasukan khusus KNIL) dan dari Yonif V Andjing NICA secara provokatif menyanyikan lagu-lagu berbahasa Belanda yang isinya menghina kaum gerilyawan. Teriakan bernada mengejek:  tot ziens lui (sampai jumpa lagi, kawan-kawan) kerap membuat telinga anak-anak Siliwangi sempat memerah. ” Tapi kami tak peduli. Kami tetap berbaris menuju Jawa Tengah dengan kepala tegak ,”kenang Soehanda.
Baca Juga: [Video] Jadi JAWARA Tak Terkalahkan, Prajurit Kopassus Ini Malah Bingung...!
Tetapi dunia tidaklah hitam putih. Selain yang arogan, ternyata ada juga para prajurit Belanda yang sikapnya bersahabat. Alih-alih bersikap sebagai musuh, mereka malah menyambut kedatangan para gerilyawan dengan tawa dan salam laiknya kawan lama. Seorang petarung Siliwangi bernama Soempena (92) bercerita, saat di Gombong, para anak muda Belanda itu cepat sekali berbaur dengan rekan-rekan mudanya di TNI. Mereka saling bertukar cerita.

TURUN GUNUNG. Para prajurit Siliwangi turun gunung untuk melakukan hijrah ke Jawa Tengah
”Ada seorang tentara Belanda, saya masih ingat namanya Janssen bilang kepada saya waktu itu bahwa sesungguhnya mereka tidak ingin berperang dengan kami. Tapi sebagai prajurit, mereka tidak memiliki pilihan. Ya kami juga begitu…” ujar lelaki sepuh yang kini tinggal di Purwakarta tersebut.

Lauk Ikan Asin

Setelah sampai di daerah republik, rombongan pasukan lantas ditempatkan di asrama-asrama yang kondisinya sangat tidak layak untuk ditempati. Selain kotor dan berantakan, tak jarang asrama-asrama itu tak memiliki fasilitas untuk tinggal seperti lemari dan tempat tidur. Hingga untuk beristirahat pun Letnan (Purn) Alleh ingat, mereka hanya ngampar samak (menggelar tikar) dan berbantalkan ransel. “ Soal kesehatan dan makanan, jangan tanya. Waktu itu kami paling mewah hanya makan nasi dengan lauk pauk sayur kangkung dan ikan asin,” kenangnya.

Baca Juga:


Sumber: arsipindonesia.com

Related Posts:

Heroik...!! Sang LEGENDA KOPASSUS Berkaki SATU: Tetap BUNGKAM, Meski Disiksa Musuh Hingga KAKI Berbelatung...!


Patriot NKRI - Dialah Sang Legenda Kopassus, Prajurit berkaki satu, hidup dan bertempur mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Prajurit tersebut adalah Kolonel Infanteri Agus Hernoto, anggota Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau yang sekarang menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Prajurit ini rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk negara yang dicintainya. Agus harus merelakan satu kaki kirinya diamputasi demi cintanya pada Tanah Air (Foto Cover: Operasi Seroja). 
Baca Juga: Kisah Jenderal TNI: Sang Raja Intel Indonesia, Dibentak Marinir
Agus lahir di Malang, 1 Agustus 1930 dari pasangan Tjokro Soetiksno dan RA Soekapti. Agus merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Meski lahir dari keluarga berdarah biru dan berkecukupan, ia memilih untuk menjadi tentara.


Semasa hidupnya, ia habiskan waktunya untuk mengabdi. Baginya tak ada waktu sedetikpun untuk istirahat, karena ancaman terhadap kedaulatan bangsa bisa terjadi kapan saja tanpa diduga.

Awal Karir

Karir militernya diawali ketika bergabung dengan tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di saat usianya menginjak 17 tahun. Beberapa tahun kemudian, berbekal pengalaman dan pengetahuannya dari PETA, dia bergabung dengan RPKAD. 

Kiprahnya sebagai penjaga kedaulatan negara diuji dengan berbagai operasi penumpasan gerakan separatis. Dengan mulus, ujian tersebut dilaluinya. 

Siapa sangka, penugasannya juga mempertemukan dirinya dengan pujaan hatinya, yang menjadi tambatan hati sepanjang akhir hayatnya, Wirda Bin Yahya. Setelah menikah, ia mengikuti pendidikan para komando di "US Army Special Warfare School" di Fort Bragg, North Carolina, Amerika Serikat.

Dia merupakan satu-satunya perwira dengan pangkat letnan dua, sedangkan rekan-rekan yang dikirim berpangkat kapten dan mayor.
Baca Juga: Kisah Pertarungan Hidup Mati TNI Di Tengah Hutan: Merebus Sepatu Lars Untuk Dimakan:...!
Berbekal pendidikan komando dan pengalaman militer yang didapatnya selama operasi penumpasan gerakan separatisme di Tanah Air, membuatnya dipercaya menjadi Komandan Tim Banteng Ketaton yang diterjunkan di kawasan utara Fak-Fak, yang sebagian besar adalah hutan perawan dengan kondisi geografis yang berbahaya pada saat Trikora.

Disiksa Hingga Kaki Berbelatung

Operasi itu dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian tentara Kerajaan Belanda yang ketika itu menguasai Irian Barat. Pada saat diterjunkan, 26 April 1962, Agus memimpin sekitar 50 pasukan pilihan gabungan antara RPKAD dan Pasukan Gerak Tjepat dari TNI AU. Agus Hernoto diterjunkan sebagai tim advance ke pedalaman Irian Barat dari atas pesawat, di tengah konflik perebutan wilayah itu dengan Belanda.

Para penerjun mendarat tersebar. Beberapa tersangkut di pepohonan, beberapa mendarat di tanah. Mereka yang berhasil mendarat terlibat kontak senjata dengan pasukan Belanda. Karena kekuatan tidak seimbang maka pasukan menyusup ke hutan. 

Pergerakan pasukan dilakukan dengan kondisi yang semakin lemah karena kehabisan bahan makanan. Medan berat disertai meningkatnya intensias kotak senjata dengan musuh yang dihadapi pasukannya kala itu, membuatnya rela mengorbankan diri agar anak buahnya selamat. 

Selama berbulan-bulan bertahan hidup di tengah belantara dan diserang pasukan Belanda, Agus sempat tertangkap. Terjadi kontak dengan pasukan Belanda yang menyebabkan 3 orang gugur yaitu Atjim Sunahyu, Suwito, Lestari dari dan 2 orang dari RPKAD. Agus Hernoto dan beberapa anggota tertembak  berondongan peluru tentara Belanda

Dengan kondisi terluka parah pada bagian punggung dan kaki kiri, ia dibawa ke Sorong. Alih-alih mendapatkan pengobatan, justru ia menerima penyiksaan. Hari-harinya diisi dengan penyiksaan. Di sinilah ia harus menanggung siksaan interogasi, kakinya yang tertembak kerap ditusuk bayonet agar mau mengaku. 
Baca Juga: Terungkap..! Asal-Usul Pisau Kopassus Yang Fenomenal. Ngeri dan Mematikan!
Agus disiksa untuk memberikan informasi terkait dengan operasi besar-besaran yang dipimpin sahabatnya, Benny Moerdani. Akan tetapi, ia tetap bungkam dan memilih untuk mati daripada memberikan informasi itu.

Setelah bersikeras untuk bungkam, kaki kirinya dibiarkan membusuk hingga belatung keluar dari sela-sela luka dari peluru yang masih bersarang di kakinya. Tidak ada pilihan lain, akhirnya kaki kirinya harus diamputasi dengan peralatan medis seadanya.

Pengalaman pahit ketika kehilangan kaki kirinya, tak membuatnya patah arang, justru semangatnya dalam menjaga kedaulatan NKRI semakin membara. Sekembalinya, ke Jakarta, Agus mendapatkan piagam anugerah Bintang Sakti dari Jenderal TNI AH Nasution, namun ditolak dan sebagai gantinya ia meminta untuk mengizinkannya menjadi tentara aktif.

Tetap Berkarir Meski Tanpa Kaki

Selepas kehilangan kaki kirinya, ia meneruskan karir tentaranya sebagai perwira umum logistik atau kerap dikenal dengan Dandenma pada unit khusus "Opsus" di bawah Komando Presiden Soeharto dan sebagai pelaksananya adalah Mayor Jenderal TNI Ali Moertopo.

Di unit itu, Agus menjadi motor penggerak sekaligus tangan kanan Ali Moertopo. Semua urusan yang mendukung setiap kebutuhan operasi harus tersedia.

Kala itu, Opsus sangat vital dalam mengembalikan perekonomian, sosial, hubungan diplomasi dan budaya yang carut-marut pascakejadian G30S/PKI. Sehingga diperlukan dana yang sangat besar dalam memulihkan berbagai sektor.

Berkat pengalaman yang didapatkannya ketika melakukan penumpasan gerakan separatisme, Agus menggalang dana demi tercapainya setiap kebutuhan pada operasi Opsus.
Baca Juga: Kisah Heroik Sertu SUPARLAN, Sang LONE SURVIVOR, RAMBO Sebenarnya. Bertempur Seorang Diri Sampai Mati.
Perannya tak hanya mencari dana untuk kebutuhan unitnya, tetapi ia selalu mendapatkan kepercayaan untuk terjun langsung melakukan kegiatan intelijen, seperti saat dikirim untuk melakukan Operasi Komodo, yakni operasi persiapan serangan Seroja di Timor-Timur. Agus ditunjuk langsung oleh Kepala BAKIN saat itu Letnan Jenderal TNI Yoga Soegama untuk mencari informasi mengenai keberadaan pos-pos musuh dan menentukan "dropping zone" yang aman.

Berkat informasi yang tepat saat itu, Timor-Timur memilih berintegrasi dengan Ibu Pertiwi dibandingkan merdeka.

Agus adalah bukti, bahwa keadaan fisik yang kurang sempurna bukan alasan untuk menghentikan langkahnya dalam menjaga kedaulatan negara.

Selama hidup, ia selalu mengabdikan diri untuk bangsa dan negara bahkan sampai lupa bahwa ia merupakan manusia yang memiliki batas dan butuh istirahat. Sampai detik terakhir dalam hidupnya pun, ia masih menjalankan tugas sebagai tentara.

Menguasai Teknik Peledakan Yang Luar Biasa

Mantan Komadan Pusat Pasukan Khusus (Danpuspassus) AD (saat ini Danjen Kopassus) Jenderal TNI (Purn) Widjoyo Soejono tak meragukan keberanian dari Agus.

"Pak Agus satu-satunya yang langsung menawarkan diri ketika ditanya komandan siapa yang mau memimpin pasukan untuk diterjunkan ke Irian Barat," kenang Widjoyo.

Agus juga merupakan perwira yang berkarakter, hormat kepada atasan, ramah terhadap kolega dan mengayomi anak buahnya.

"Dia penuh perhitungan dalam melaksanakan operasi militer. Selalu siaga dan siap menjalankan perintah. Dia bukan pribadi yang pesimistis, dia selalu optimistis. Orang optimistis itu pemberani, kalau di Kopassus hanya prajurit yang memiliki keberanian yang bisa bertahan," katanya.

Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri mengatakan Agus merupakan orang yang menguasai teknik peledakan yang berisiko.

Pertama kali mengenal Agus, Kiki mengaku heran melihat cara berjalannya agak pincang dan tidak pernah menggunakan pakaian tentara.

Saat itu pertempuran antara pasukan UDT yang dipimpin Lopez Da Cruz melawan Fretelin. UDT kalah persenjataan maka di sana mereka kalah, pada 19 September 1975. Lalu, Fretelin berhasil menguasai wilayah Batu Gade.
Baca Juga: Woow...! NRS-2, Pisau Komando Unik Yang Memiliki Kemampuan Rahasia.
"Pak Agus saat itu dengan gagah berani melakukan rekayasa peledakan dengan menggunakan jerigen besar berisi TNT seberat 25 kilogram dan dipasang sumbu di atasnya. Bom itu diledakkan dengan cara membakar sumbu dari helikopter lalu dilempar ke bawah, ke arah musuh," katanya.

Kiki mengaku kagum dengan tindakan Agus tersebut. Meski cacat, tapi mampu menjalankan operasi militer di lapangan serta menguasai teknik peledakan.

"Tindakan tersebut sangat berbahaya, ketika menyalakan sumbu dari helikopter dan dilempar ke bawah dapat membahayakan dirinya sendiri yang berada di atasnya," kenang dia.

Menjadi Teladan

Kiki mengaku termotivasi dan mempunyai pengaruh besar dalam membentuk jiwa kemiliterannya menjadi lebih baik.

"Hal ini sering saya terapkan di lapangan dalam menjalankan tugas sebagai komandan kompi dan batalyon di Timtim. Saya selalu teringat sosok Pak Agus yang pemberani itu, khususnya jika sedang tugas di hutan Timtim. Keteladanan Pak Agus selalu melekat pada saya," kata Kiki.

Kisah ini tertuang dalam buku Bagimu Negeri, Jiwa Raga Kami: Legenda Pasukan Komando Kolonel Inf Agus Hernoto, yang diluncurkan pada awal Agustus 2015.
Baca Juga: Usman & Harun DIGANTUNG, MARINIR Siap TENGGELAMKAN Singapura...Ngeri...!
Buku setebal 212 halaman tersebut ditulis oleh anak kedua Agus Hernoto, yakni Bob Heryanto Hernoto bersama kawan-kawan. Bob mengatakan buku tersebut ditulis untuk memperingati 30 tahun kepergian ayahandanya. Bob berharap kisah ayahnya bisa menginspirasi anak muda untuk mencintai Tanah Airnya.

Sumber: antaranews | Merdeka.com | Tribunnews.com

Related Posts: